Kemandirian ekonomi Indonesia masih menjadi pekerjaan besar meskipun perekonomian nasional terus tumbuh. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, serta industri yang semakin berkembang. Namun, pada saat yang sama, Indonesia masih mengimpor energi, komponen teknologi, bahan baku, dan berbagai barang modal.
Kondisi tersebut menunjukkan satu hal penting. Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menghasilkan kemandirian.
Sebuah negara dapat memiliki ekonomi besar, tetapi tetap bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis.

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Sama dengan Kemandirian
Indonesia memang terus meningkatkan kapasitas ekonominya. Namun, ukuran pertumbuhan hanya menunjukkan seberapa besar aktivitas ekonomi berkembang dalam suatu periode.
Sementara itu, kemandirian melihat pertanyaan yang berbeda.
Apakah Indonesia mampu memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri? Apakah industri lokal mampu menghasilkan teknologi penting? Apakah perusahaan domestik mampu memasok kebutuhan industri tanpa terlalu bergantung pada impor?
Karena itu, negara perlu melihat kualitas pertumbuhan, bukan hanya kecepatannya.
Impor Justru Menunjukkan Sisi Lain Ekonomi Indonesia
Data BPS memperlihatkan bahwa aktivitas impor Indonesia tetap besar. Pada Mei 2026, nilai impor mencapai US$24,81 miliar. Impor nonmigas menyumbang US$20,30 miliar, sedangkan impor migas mencapai US$4,51 miliar. (bps.go.id)
Namun, impor tidak selalu berarti kelemahan.
Perusahaan membutuhkan mesin, bahan baku, dan komponen untuk meningkatkan produksi. Karena itu, sebagian impor justru membantu industri domestik berkembang.
Masalah muncul ketika Indonesia terlalu bergantung pada barang strategis yang belum mampu diproduksi secara kompetitif di dalam negeri.
Dengan demikian, target kemandirian bukan berarti menghentikan impor. Targetnya adalah mengurangi ketergantungan pada impor yang sebenarnya bisa Indonesia produksi atau kembangkan sendiri.
Energi Masih Menjadi Contoh Paling Jelas
Sektor energi menunjukkan tantangan tersebut dengan cukup nyata.
Kementerian ESDM menyebut kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan kapasitas produksi domestik berada di sekitar 14,3 juta kiloliter. Setelah tambahan produksi dari Kilang Balikpapan, kapasitas meningkat 5,5 juta kiloliter sehingga kebutuhan impor bensin masih berada di sekitar 20 juta kiloliter. (esdm.go.id)
Data tersebut memperlihatkan mengapa pemerintah terus mendorong kilang, biodiesel, bioetanol, dan alternatif energi lain.
Jika kebutuhan energi semakin besar tetapi kapasitas produksi domestik tertinggal, Indonesia tetap harus mengeluarkan devisa untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Teknologi Menjadi Tantangan yang Lebih Rumit
Selanjutnya, Indonesia menghadapi tantangan pada sektor teknologi.
Semikonduktor menjadi salah satu contohnya. Industri Indonesia sudah memiliki fasilitas perakitan dan pengujian serta perusahaan desain integrated circuit. Namun, Kementerian Perindustrian mencatat nilai impor semikonduktor Indonesia meningkat dari US$2,33 miliar pada 2020 menjadi US$4,87 miliar pada Januari–November 2025. (kemenperin.go.id)
Artinya, industri domestik membutuhkan teknologi tersebut dalam jumlah besar, tetapi Indonesia belum menguasai seluruh rantai produksinya.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong desain chip, pengembangan talenta, riset, material, serta fasilitas manufaktur secara bertahap.
Indonesia Tidak Bisa Mandiri Tanpa Teknologi
Sumber daya alam memang memberikan keunggulan.
Namun, nilai ekonomi terbesar biasanya muncul ketika negara mampu mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Nikel, misalnya, dapat memberikan manfaat lebih besar ketika Indonesia mengembangkan rantai industri yang mencakup pengolahan, material baterai, komponen, hingga produk kendaraan listrik.
Begitu juga dengan sumber daya mineral lain.
Karena itu, hilirisasi memiliki peran penting dalam strategi kemandirian ekonomi Indonesia.
Namun, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan awal. Indonesia perlu terus bergerak menuju teknologi dan produk yang semakin kompleks.
Industri Lokal Harus Naik Kelas
Kemandirian juga membutuhkan perusahaan domestik yang mampu bersaing.
Jika perusahaan lokal hanya menjadi distributor produk asing, nilai tambah yang tinggal di dalam negeri akan terbatas.
Sebaliknya, perusahaan yang mampu merancang produk, mengembangkan teknologi, membangun merek, dan mengekspor produk dapat menciptakan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.
Karena itu, pemerintah perlu membantu perusahaan lokal meningkatkan:
- kemampuan riset;
- produktivitas;
- kualitas produk;
- akses pembiayaan;
- kemampuan ekspor;
- penguasaan teknologi;
- perlindungan dan pengembangan kekayaan intelektual.
Dengan begitu, pertumbuhan perusahaan lokal dapat ikut memperkuat kemandirian nasional.
UMKM Juga Punya Peran
Pembahasan kemandirian sering hanya berfokus pada perusahaan besar. Padahal, UMKM juga dapat membangun rantai pasok domestik.
Misalnya, perusahaan besar membutuhkan kemasan, komponen, jasa logistik, makanan, seragam, dan berbagai layanan pendukung. Jika UMKM lokal dapat memenuhi standar tersebut, perusahaan besar dapat mengurangi sebagian ketergantungan pada pemasok luar negeri.
Selain itu, UMKM yang naik kelas dapat membuka peluang ekspor.
Jadi, kemandirian ekonomi tidak harus dimulai dari proyek raksasa. Kemandirian juga bisa tumbuh dari ribuan bisnis kecil yang mampu menghasilkan produk berkualitas di dalam negeri.
Apakah Indonesia Harus Berhenti Bergantung pada Negara Lain?
Tidak.
Ini justru bagian yang sering disalahpahami.
Tidak ada ekonomi modern yang benar-benar berdiri sendiri. Semua negara tetap melakukan perdagangan, investasi, dan pertukaran teknologi.
Karena itu, kemandirian bukan berarti Indonesia harus membuat semua barang sendiri.
Kemandirian berarti Indonesia memiliki pilihan dan kemampuan strategis ketika kondisi global berubah.
Jika satu pemasok terganggu, Indonesia memiliki alternatif. Jika harga komoditas melonjak, Indonesia dapat meningkatkan produksi lokal. Jika teknologi tertentu menjadi penting, Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan atau menguasainya.
Kemandirian Berarti Memiliki Ruang untuk Memilih
Definisi tersebut membuat konsep kemandirian menjadi lebih realistis.
Indonesia tetap dapat membeli teknologi dari luar negeri. Namun, Indonesia sebaiknya memahami teknologi tersebut dan memiliki tenaga ahli yang mampu mengembangkannya.
Indonesia tetap dapat mengimpor energi. Namun, Indonesia juga perlu meningkatkan produksi domestik dan mengembangkan sumber energi alternatif.
Indonesia tetap dapat mengimpor mesin. Namun, industri lokal perlu meningkatkan kemampuan manufaktur agar sebagian kebutuhan dapat dipenuhi di dalam negeri.
Dengan pendekatan tersebut, perdagangan internasional tetap berjalan tanpa membuat Indonesia terlalu rentan.
Apa yang Harus Diperkuat Indonesia?
Ada beberapa prioritas yang semakin jelas.
Pertama, Energi
Indonesia perlu meningkatkan kapasitas produksi, efisiensi, cadangan, dan diversifikasi sumber energi.
Kedua, Teknologi
Indonesia perlu memperkuat semikonduktor, AI, pusat data, perangkat elektronik, dan riset.
Ketiga, Industri
Perusahaan lokal perlu bergerak dari perakitan menuju pengembangan produk dan teknologi.
Keempat, Talenta
Pendidikan dan pelatihan harus menghasilkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan sekaligus mengembangkan teknologi.
Kelima, Rantai Pasok
Indonesia perlu memperbanyak pemasok domestik yang mampu memenuhi standar industri.
Jika lima bagian tersebut bergerak bersama, pertumbuhan ekonomi akan semakin dekat dengan kemandirian.
Kesimpulan
Kemandirian ekonomi Indonesia tidak berarti Indonesia harus menutup diri dari perdagangan global. Sebaliknya, Indonesia tetap membutuhkan hubungan dagang dan investasi internasional.
Namun, pertumbuhan ekonomi akan memiliki fondasi yang lebih kuat ketika Indonesia mampu menguasai sektor-sektor strategis seperti energi, teknologi, industri, dan sumber daya manusia.
Indonesia sudah memiliki banyak modal. Ekonomi tumbuh, pasar domestik besar, sumber daya tersedia, dan investasi terus masuk. Namun, ketergantungan pada impor energi dan teknologi menunjukkan bahwa perjalanan menuju kemandirian masih panjang. (bps.go.id)
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan ketika Indonesia berhenti membeli dari luar negeri. Ukuran yang lebih penting adalah ketika Indonesia memiliki kemampuan untuk memilih: kapan harus mengimpor, kapan harus memproduksi sendiri, dan kapan harus menciptakan teknologi yang belum dimiliki.
